Apresiasi Kata

Ada aja alasan buat nunda mulai nulis, padahal dicoba aja belum. Sebetulnya perbedaannya tipis sih. Mereka yang berani mulai nulis itu membuat alasan-alasan yang mendukung. Sedangkan kamu, jujur sendirilah. Enggak usah saya perjelas. Terkadang sesuatu yang diperjelas justru malah jadi PHP kayak drama cawapres kemarin itu lo. Tapi, saya tidak akan sekejam drama politik tempo…

Tiga Jurus Kilat Mulai Menulis!

“Fik, gimana sih caranya nulis?” “Bang, gue mau nulis nih tapi bingung cara mulainya gimana? Ajarin dong!” “Bro, kasih tau dong tips biar bisa nulis?” Pertanyaan di atas sering mampir di DM Instagram dan pesan WhatsApp saya. Mungkin di antara kamu ada yang punya pemikiran sama seperti mereka. Tenang aja, rupanya kita senasib tapi beda…

Tobatnya Seorang Sarjana Muda

Iwan Fals pernah menyentil nasib malang mahasiswa yang cuma mengandalkan ijazahnya dalam sebuah lagu, “Engkau sarjana muda  Resah mencari kerja  Mengandalkan ijazahmu  Empat tahun lamanya  Bergelut dengan buku  ‘Tuk jaminan masa depan  Langkah kakimu terhenti  Di depan halaman sebuah jawaban” Lirik itu menggambarkan kenyataan miris kaum sarjana muda yang compang-camping hidupnya usai memakai toga kebesaran….

Kumandang Suara Paraumu

Adakah yang bisa menjadi pengganti? Sedang kamu lelaki yang sepaling baik padaku. Di antara ratusan kaum sarungan yang bermalam di asrama. Aku jadi yang beruntung mendapati perhatianmu. Kamu pernah mengajakku berkendara mobil hijaumu yang gagah. Di sana, kamu sibak banyak rahasia yang aku hanya bisa memasang telinga. Dengan usiaku baru mencapai akil balig  belum sampai…

Kekejamanku!

Angin ribut yang pernah melukaimu, tak seperih cedera yang kutimpakan. Salahmu mempercayaiku bahwa aku tidak seperti yang lain. Aku bisa mengecewakanmu dengan sekali hunus. Mencincang tubuhmu tercabik dengan keberingasan sikap dinginku. Aku sepertimu, bukan malaikat! Aku sudah gigit jari pada banyak alibi yang kamu hujahkan. Kamu terlampau cerdik memainkan alasan. Aku geram beriring masygul sangat…

Pengakuan di Depanmu

Sorot matamu menuduhku dengan kejam. Mencurigaiku tidak mengisi soal pertanyaanmu dengan benar. Ini tidak sebanyak aku ujian bahasa, namun jawabannya lebih rumit dari Matematika. Aku sedang menyeleksi ketat jawaban apa yang akan kuberi. Pertanyaannya kamu ulangi, “Kita bisa bersama, kan?” Kamu menjebakku. Aku seperti napi yang ditembaki senapan interogasi. Aku menyerah untuk menutupi. Di masa…

Mengapa Melibatkanku Lagi?

Sembilan puluh hari lebih, kita saling asing. Aku mendapati beritamu yang semakin mesra dengannya. Terakhir kita bertemu, kamu lebih menyala. Aku bahagia dia bisa menjagamu. Itu semasa kamu menebar bingkisan dari kota asalmu. Tak ada yang spesial, aku seperti yang lain. Mendapat jatah yang sama. Jalanku melupakanmu semakin terang. Kita tak terlibat dalam satu tim…

Aku Bukan Pilihan

Kamu telah lama menyusupi tentangku. Mengeruk seisi jagatku dengan banyak tanya. Kamu ajak aku untuk menelusuri bumi demi mengejar ilmu yang kita sama sukai. Mereka membisiki, “Dia jatuh hati padamu.” Aku menolak pembenaran mereka. Belum kulihat bukti nyata aku sepenuhnya di bola matamu. Belum kusaksikan kamu menggilaiku. Rupanya benar sangkaku. Aku bukan yang utama. Kala…

Rinduku Tak Kunjung Kering

Matahari di sini tak setawar negerimu. Ia menyulap buminya jadi kering kerontang. Menyiksa onta kelaparan dan kehausan. Seperti kita yang sedang menahan diri dalam puasa bertemu. Tersiksa lantaran mata lama tak kamu kunjungi. Tak tenang karena tiada kulihat sedang apa kamu di sana. Tiada usah kamu khawatirkan aku. Matahari tak membakarku jadi abu. Dan rinduku…

Jatuh Cinta Pada Wanita Yang Sama

Semula kita terdampar di pulau yang sama. Takdir pun menyertai kita di perahu yang sama. Antara dia, kamu dan aku. Tanpa rencana, kita seatap langit. Dan kamu dijatuhcintai oleh lelaki baik yang kukenal baik. Kamu terpaku membalas kebaikan dengan cara baikmu. Aku memerhatikan mesramu dengannya. Tiap kali Tuhan menemui aku dengan momen bahagiamu tersebut. Aku…

Jauh Yang Mendekat

Aku telah berkelana jutaan kilometer di bentala bumi yang tak berujung. Menjadi musafir cinta demimu yang kunantikan. Pucuk langit pun telah kujelajahi untuk menangkap nama yang masih berterbangan di sana. Belum jua kutemukan namamu, Dara. Aku ketakutan namamu telah jadi miliknya. Aku tidak akan sudahi pencarianku untukmu. Sampai aku mendapati kabarmu. Di sepertiga malam, aku…

Apa Benar Kamu Padaku?

Bahkan saat pagi masih bayi sekali aku sudah mencari tentangmu. Menyusuri segala serakan sejarahmu yang ada di bumi. Setiapnya aku baca dengan bacaan sepaling tartil. Ini seperti kebiasaan ibumu dahulu, Dara. Kala jauh darimu, ia terdepan pencari kabarmu setiap waktu. Mungkin kekhawatiran bidadarimu mewariskannya padaku. Namun, sesungguhnya siapa yang kamu cari? Pertanyaan itu menggangguku baru-baru…